[media-jabar] Kritikan untuk RRI
Ketika sedang sungguh bosan di kantor, saya sering kali membuka laman
Oleh André Möller
web Radio Republik Indonesia. Di sana terkadang dapat didengarkan
siaran langsung dari Indonesia dan, jika bisa, rasa lelah lekas sirna.
Bukannya karena acara-acara RRI terkenal lucu, tapi karena cara para
pembawa acara berbahasa terasa cukup mengherankan. Inti dari keheranan
ini adalah nada-nada mereka.
Rasanya tak terlampau jarang, RRI diisi dengan acara olahraga. Saya,
yang sama sekali tidak tertarik pada berita olahraga, selalu terpukau
mendengarkannya. Ketertarikan ini tidak karena secara tiba-tiba, saya
tertarik pada hasil terakhir liga sepak bola Indonesia atau pada
bagaimana perkembangan pelatihan para olahragawan dari Sulawesi.
Tidak. Yang membuat saya terpukau adalah nada para pembawa acara.
Mereka membaca berita ini seolah-olah isinya kabar buruk atau, lebih
tepat, seolah-olah isinya tidak lain selain cerita menakutkan.
Dengan nada seram dan sungguh serius, sang pembawa acara
mendengungkan: "Si Anu menang pertandingan bulu tangkis di Malaysia
kemarin." Ketika para pendengar sudah merasa ngeri, dia melanjutkan
dengan suara yang sepertinya datang dari jurang sungguh gelap: "Dan si
Anu sedang berlatih di Singapura dengan sistem pelatihan yang baru."
Takut, rasanya. Padahal, berita olahraga itu sendiri tak buruk, tapi
sebab yang menyampaikannya memakai nada yang tidak sesuai dengan inti
beritanya, para pendengar (setidaknya saya) jadi sesat dan bingung.
Lain ceritanya dengan para pembaca berita umum. Mereka yang sering
kali menyampaikan berita duka mengenai pelbagai bencana yang
akhir-akhir ini melanda Indonesia, malah mengedepankannya dengan nada
senang, seolah-olah mereka sedang menghibur kami yang sedang
mendengarkannya. Beberapa hari yang lalu ada pembawa acara yang
menyampaikan berita mengenai para pengungsi Gunung Kelud. Dengan nada
yang penuh gembira ia bercerita tentang seorang pengungsi: "Dan kini
maagnya kambuh karena tidak bisa makan secara teratur." Seolah-olah
dia menang arisan saja.
Nada yang sama terdengar beberapa minggu yang lalu ketika ada gempa di
Sumatera. Dengan nada senang seorang wartawan melaporkan langsung dari
kemah pengungsian: "Di sini tidak ada air bersih, tidak ada makanan,
dan tidak ada obat-obatan yang sangat diperlukan." Dari nadanya dapat
dikira ia dan semua pengungsi sedang kejatuhan durian. Kenyataannya,
anak-anak sedang menderita sejumlah penyakit karena tak memperoleh air
bersih dan obat-obatan.
Ada apa dengan nada yang tidak sesuai dengan arti kata-kata yang
keluar dari mulut ini? Apakah ini biasa terjadi di Indonesia? Apakah
orang-orang Indonesia sering "lupa" menyesuaikan nada dengan topik
pembicaraan?
Jawabannya pendek saja: tidak sama sekali. Atau, alternatif kedua yang
lebih pendek lagi: sebaliknya. Pada hemat sederhana saya, orang
Indonesia justru sangat peduli dengan naik-turunnya dan
sedih-bergembiranya nada ketika berbicara dan membaca. Saya sendiri
baru dapat mulai menghargai puisi setelah bertempat tinggal di
Indonesia beberapa saat. Baru waktu itu saya menyadari bahwa puisi
harus dibaca dengan suara keras karena tanpa nada yang benar, puisi
cepat terasa kosong.
Jadi, mengapa sejumlah pembawa acara RRI mengalami kesusahan ini yang
sama sekali tidak biasa di Indonesia, saya tidak tahu. Yang pasti,
kelelahan cepat menghilang ketika mendengarnya.
André Möller Pengamat Bahasa, Tinggal di Swedia
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___




0 komentar:
Post a Comment